Mila senang mengamati banyak hal,
entah kenapa, belakangan ini tengah tertarik untuk mengamati interaksi antar orangtua dan anak.
Menurut mila banyak hal yang unik dibalik setiap interaksi mereka,
mila melihat gambaran besar: efek timbal balik yang nampak jelas.
Awalnya, banyak belajar dari bagaimana kakak2 men-treatment anak2nya.
Mengamati teh Ella, teh Inna, Aa, teh Iya. Mereka semua memiliki style-didiknya masing2, meski seluruhnya kompak minta dipanggil ayah-bunda. Yap, pokoknya lucu aja, ketika melihat sang anak tumbuh layaknya kedua orangtuanya.
Kemudian,
entah sudah berapa kali melihat orangtua dengan anaknya di bis umum, di mesjid, di jalan, di mall, dll.
Beragam pula jenisnya:
-ibu muda yang tidak sabaran dan berkata kasar, anaknya pun begitu. Nyantai saja mencubit, nyentil telinga, membekap mulut. Tidak segan si anak membalas cubitan ibunya dan membalas dengan kata kasar juga. Merinding mila ngeliatnya.
-ibu yang terlihat ramah dan sayang, anaknya juga kooperatif. Membantu bawain tas ibunya, berbicara lugu dan lucu selayaknya anak2.
-ayah muda yang memangku anaknya kemudian bercerita tentang apa-apa yang ada di jalanan, anaknya pun cerdas dan lucu sekali mengomentarinya. hmm, pengen nyubit!.
-ibu yang berusaha menahan marah, ketika anaknya teriak-teriak sambil nangis minta turun di jalan. Hmm, terlihat sekali rona marahnya,namun karena mungkin ga enak dilihat orang, jadi ditahan marahnya.
-ayah yang sudah tua, menggondong ransel milik sang putra. Keringatnya mengucur, sambil tangan kanannya memegang bahu si anak agar tidak jatuh. Anaknya sabar sekali berdiri seperjalanan, sama sekali tidak mengeluh kecuali bertanya pada si ayah “bapak, masih jauh ya?”.
-dan lain2
Beragam, namun ada garis merah yang bisa ditarik dari kesemuanya. Efek timbal balik: you give it, you deserve it.
Ya, mendidik itu ternyata sangat sulit. Dan dalam berinteraksi dengan anak-anak, kita sepertinya harus lebih banyak memutar otak dan hati. Alasannya tentu saja, karena mereka belum mampu menyusun logika. Apa yang mereka dapat, itu yang mereka tahu, dan seperti itu pula bereka merefleksikannya.
Ingin anak yang baik, maka perlu treatment yang baik pula.
Treatment baik itu yang sulit:
bagaimana mendisiplinkan mereka, tapi tanpa kekerasan.
bagaimana memenuhi kemauan mereka, tapi tanpa membuat mereka manja.
bagaimana mengekspresikan rasa sayang, tapi tanpa membuat mereka ketergantungan.
bagaimana mencerdaskan mereka, tapi tanpa membuat mereka bosan.
bagaimana memuji mereka, tapi tanpa membuat mereka jadi sombong.
bagaimana mengajarkan mereka untuk solat, ngaji, baca doa, makan pake tangan kanan, makan ga boleh diri, buang sampah ditempatnya, hormat sama oranglain, daaaan lain2.
hmm, sama sekali tidak mudah.
Sepertinya kita harus banyak berterimakasih atas segala didikan ayah dan ibu yang sudah membesarkan kita hingga saat ini. Untung saja tidak Allah titipkan dalam rahim seorang ibu yang keras lagi kasar.
Jika saat ini kalian bercermin, dan melihat kebaikan disana, maka sebagian besarnya adalah jasa mereka.
Mengutip ucapan dari seorang kakak: “Allah tidak akan menitipkan anak soleh pada rahim yang salah”.


