Berhati paling lurus… January 25, 2012
Posted by inasakamila in Uncategorized.add a comment
“Tetaplah menjadi lelaki berhati paling lurus di sepanjang aliran Sungai Kapuas…”
[Mei - 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah' - Tere Liye]
Hmmm, buat saya, ini petuah paling manis dalam semua buku bang Tere.
Baik untuk laki-laki ataupun perempuan, petuah paling sederhana dan manis apalagi selain: tetaplah memiliki hati yang paling lurus.
*ya ampun, jangan tanya sekarang semelenceng apa saya. Hayuklah, kembali berjuang melurus.
What a childish I am… (isn’t it?) January 14, 2012
Posted by inasakamila in Uncategorized.2 comments
Malam ini spesial.
Sejak lebih dari setahun yang lalu:
siang hari di sebuah taman di bilangan sudirman
dan sepenggal malam di Patas AC 44…
Akhirnya malam ini bisa sharing banyak lagi dengan sahabat saya yang satu ini.
Dan ya, selalu saja mendapat “sesuatu” dari setiap pertemuannya.
Bersamanya, saya tiba-tiba selalu merasa “utuh”.
Mmm, agak abstrak.
Maksud saya, saya bisa menjadi diri saya yang seutuhnya.
Bukan saya yang simple-cuek-ekstrovert-masabodoh-kanakkanak.
Atau bukan juga saya yang dewasa-kompleks-introvert-melankolik.
Saya merasa bisa menjadi keduanya… ![]()
Selalu begitu.
Dan ia selalu saja mampu memberikan inspirasi dan pendewasaan. (*aku pernah ngasih apa untuk kamu ya?)
Baiklah,
Kali ini di sebuah tempat makan seafood.
Ditemani pecel ayam dan cumi asam manis, percakapan ringan mengalir.
Awalnya, seperti biasa, ada sedikit kik-kuk aneh setiap awal pertemuan kita.
Maklumlah, kami memang bukan sahabat-kemana-saja-bersama, sekali-kali saja bertemu jika waktunya klop.
Apalagi sekarang dunia kita sudah berbeda. Tetapi, (sepertinya) kami masih satu hati…
Diawali dengan perbincangan ringan selama makan.
Tentang aktivitas saat ini, sharing kondisi temen-temen SMA, pekerjaan, dan sebagainya.
Hingga setelah nasi habis, barulah “sharing” yang sesungguhnya dimulai.
Kali ini sisi melankoliknya pasti muncul.
Saya tentu saja tidak bisa cerita apa yang kami bicarakan. Ini privasi.
Tetapi intinya, dari sharing tersebut, saya jadi sadar bahwa saya bukan lagi anak kecil.
Saya (seharusnya) bukan lagi menjadi anak kecil atau merasa masih anak kecil.
Saya sudah besar, sudah tua, sudah 22 tahun. Di usia itu, ibu saya saja sudah mengurusi 2 anak .
Tidak lagi pantas untuk bertingkah seperti anak SMP. Leyeh-leyeh manja dan membercandai banyak hal.
Sudah sarjana, punya tanggung jawab besar kepada orang tua, kontribusi untuk umat, dan bersiap membangun keluarga sendiri.
Apalagi untuk satu hal yang pasti you-know-what itu.
Selama ini, -sungguh- saya masih sangat sangat sangat membercandai fase itu.
Fase itu tampak masih jauh sekali.
“Dua tahun lagi deh ya”, santai saja saya menjawab pertanyaannya sambil tertawa.
Kemudian kaget menyadari wajahnya yang berubah serius, “Kok gitu? Ngga boleh loh nargetin gitu.”
(Dalam hati: *ding, kenapa diseriusin)
Tapi memang, untuk sekian banyaknya hal (bukan hanya tentang itu), saya benar-benar suka meremehkan dan tidak sensitif.
Saya memang harus diseriusin sepertinya, supaya sadar bahwa “hidup itu serius, bukan main-main”.
Oh iya, pertemuan kali ini ditutup dengan :
“I know that there is something hidden from you. Ayo dong mil cerita. Aku tahu ada yang mau kamu ceritain.”, wajahnya masih serius.
“Ngga ada mba, emang ngga ada yang harus diceritain”, saya menggeleng sambil tersenyum.
“Mil?”, tampangnya menyelidik.
“Ngga ada, beneraaaan”.
Haha, begitulah.
Ia menjalani hidupnya dengan serius, sehingga hal kecilpun jadi berkesan.
Sedang saya menjalaninya dengan main-main, sehingga hal besarpun tidak jadi berkesan.
Oalah, tulisan ini jadi super acak sekali.
Tapi yasudahlah…
~for her, semoga selalu yang terbaik untuknya…
Pak Guru… November 25, 2011
Posted by inasakamila in Uncategorized.add a comment
Sungguh, saya menulis ini bukan karena hari ini adalah hari guru. Lucunya, pas aja momen nya dengan hari guru.
Kemarin, guru SD saya (yang juga guru tiga kakak saya) mampir ke rumah. Maklum lah, SD saya itu (dulu, ga tau sekarang) adalah SD kampung: Yang siswanya adalah anak-anak sekitar saja. Yang dari rumah bisa berjalan kaki atau naik sepeda lewat rumah-rumah perkampungan. Yang satu RW rata-rata SD nya disana semua. Yang gurunya bisa jadi kenal betul dengan orangtua setiap murid karena kakak-kakaknya juga pernah sekolah disana. Yang gurunya sering bersilaturahim ke rumah murid-muridnya. Yang muridnya juga suka iseng main sepeda ngelewatin rumah gurunya. (missing that moment so much :’))
Nama beliau Pak Suhyar. Dari jaman kakak kedua saya sekolah (mungkin sekitar tahun 1980an) sampai pas beliau mengajar saya, beliau selalu jadi guru spesialis mengajar kelas 6 dan terkenal paling ‘killer’. Tetapi, somehow, menjadi guru yang paling kita kenang dan sayang, hehe. Mungkin karena mengajar kelas 6 juga kali ya, jadi beliau jadi guru yang paling intensif kita kenal, paling dekat dengan orangtua kita, dan juga berjasa meluluskan kita yang nakal-nakal ini. Sayangnya, sejak 2003, beliau tidak mengajar di SD kami itu lagi karena didaulat menjadi kepala sekolah di SD yang lain.
Tentang beliau lagi…
Jangan ditanya galaknya, walaupun dulu termasuk deretan anak pinter (cie), tapi saya juga sering kena omelannya. Mulai dari disuruh duduk di depan kelas karena ngobrol pas pelajaran, ditimpuk pake penghapus papan tulis, ditarik jambangnya, dijitak, dijewer, dll. Ya tuhan, kalo jaman sekarang, mungkin udah dilaporin ke polisi atau komnas perlindungan anak kali ya, hehe. Tapi ya, dulu itu, ga ada sama sekali perasaan sebel. Kalau ngadu ke orangtua pun, mereka malah akan marahin anaknya karena bikin sang guru marah. Akhirnya, kitanya yang harus jadi disiplin.
Tapi…
Saya inget betul ketika kita sekelas bikin surprise di hari ulang tahunnya. Beliau satu-satunya guru yang pernah kita rayain ulang tahunnya lho. Kita hias kelas pake balon-balon dan kertas krep warna-warni. Kita beliin kado. Saya ingat mata beliau yang berkaca-kaca ketika itu. Dan kita akhirnya ditraktir indomie sekelas. (huah, saya jadi berkaca-kacai inget momen ini). Beliau itu, walau galak minta ampun, tapi sebenarnya sangat mudah tersentuh. :’)
Pokoknya, beliau ‘sesuatu’ banget lah bagi saya, dan mungkin bagi murid beliau yang lain yang entah sudah berapa banyak. Angkatan saya aja ada 58 orang sekelas.
Coba iseng kita hitung ya… Katakanlah satu kelas rata-rata ada 40 orang anak. Kalau usia beliau sekarang 60 tahun (kira2), mungkin sudah mengajar sekitar 40 tahun. Maka murid yang sudah beliau ajar ada sekitar 1600 anak. Huah, buanyak sangat. Dan saya yakin semuanya ga bakal lupa sama guru yang satu ini. Belum lagi dengan murid-murid lain, yang walaupun ga diajar langsung sama beliau, tetapi ter-influence secara ga langsung. Kalau hitung-hitungan pahala, cuma Allah yang bisa.
Saat beliau kemarin mampir ke rumah, rasanya gimana gitu. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun tidak melihat beliau. Jadi rasanya seperti ada jutaan memori masa kecil yang ketarik dan bikinnn merinding (haha, lebay -tapi serius). Beliau mampir untuk memberikan undangan sunatan anaknya untuk ibu/bapak dan kakak-kakak. Sekaligus sekalian sebagai momen reunian sama murid-muridnya.
Dari beberapa hari kemarin, beliau udah keliling-keliling ngasih undangan. Dari satu rumah ke rumah yang lain yang masih beliau inget. Beliau bilang, beliau selalu diundang kalau ada reunian angkatan. Sekarang, beliau ingin beliau yang mengundang murid-muridnya untuk reunian sebelum beliau pensiun. Kangen katanya, “Biar nanti ada foto-foto kenangan sama murid-murid”. Beliau juga bilang, “walaupun bukan anak sendiri, seneng banget kalo denger murid sukses, pada bisa masuk Ui, ada yang udah jadi dokter, …”. (betewe, air mata saya tiba-tiba berlinangan nulis ini).
So much much much to say…
Tapi biar ga panjang-panjang banget tulisannya, disudahi saja.
Terpujilah wahai engkau,
Ibu Bapak Guru…
Namamu akan selalu hidup di dalam hatiku…
…
Meski si bapak paling sebbbelll dinyanyiin himne guru (saya inget banget kata2 beliau setiap kita nyanyi lagu itu,haha), tapi you are pak…
Apapun pekerjaan saya nanti -beneran jadi guru atau tidak-, saya belajar saaangat banyak dari Bapak…
Semoga Allah senantiasa memberkahi beliau… as always…
~dan di luar mendung, bersiap hujan. Jadi melankolis begini rasanya,hihi.
It’s not easy to be me… November 18, 2011
Posted by inasakamila in Uncategorized.3 comments
Hmm, lagi2 mulai ‘rusuh2an’ dengan karakter saya yang aneh: dreamy idealist (menurut sebuah personality test), healer (menurut personality test yg lain)… Which is, ini sama2 aja definisinya ternyata…
Termasuk personaliti paling idealist, dreamy, reserved, dan introvert dari jenis personaliti yang ada. Tapi juga yang paling loyal, patient, sensible, dan aware-of-people-feeling.
Ya, tentu dengan itu, saya jadi banyak kelemahannya. Tapi juga banyak kelebihannya.
Allah adil bukan? :b
Seseorang pernah berkata: “Mana yang lebih baik: memaksimalkan kelebihan, atau meningkatkan kelemahan?” dan jawabannya: “dua2 nya”.
Hihi, ngga gitu juga sih. Kita ngga punya tenaga sehebat itu.
Jawabannya: “memaksimalkan kelebihan”. Karena dengan itu, kita bisa jadi ‘sesuatu’ yang optimal.
Dibanding meningkatkan kelemahan, yang bagaimanapun kerasnya berusaha, kemungkinan besar mentok di level tertentu, dan kemungkinan besar juga kita banyak kebalap dengan orang lain yang punya bakat natural disana.
Dan kenapa judulnya: “it’s not easy to be me?”. Karena, dengan karakter dreamy-idealist itu, di tengah ke-simple-an dan ke-phlegmatis-an saya, sebenarnya saya ini cukup kompleks lho (rusuh2an ini termasuk ke-kompleks-an tipe ini, hehe).
Satu2nya cara agar saya bisa merasa puas, optimal, dan bahagia hanyalah dengan dapat melakukan segala sesuatunya dengan benar dan senantiasa mengikuti kata hati. Karena jika tidak begitu, saya akan terus2an merasa reserved dan menyalahkan diri sendiri -dan orang lain, sadar atau tidak-.
Saya harus benar dalam berhubungan dengan tuhan -Allah-, harus benar dalam berhubungan dengan manusia, harus benar mengerjakan segala sesuatunya, harus benar dalam memilih sesuai dengan kata hati, dsb.
Karena ‘seperti hidup dalam fairy-tale’ (yang menjadi salah satu karakter si dreamy-idealist) itu menghendaki kesempurnaan tanpa cacat.
Sekarang, masih luarbiasa banyak cacatnya, jadi kalau ditanya: “have you been happy with your life?” saya tegas akan menjawab: “not yet”.
Karena bagi saya, definisi bahagia itu, yaaaaa sekompleks itu.
Tapi semoga saja Allah tidak melihat saya sebagai hamba yang tidak bersyukur. Segala puji hanya bagi-Nya, pemilik kesempurnaan semesta yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
*ceracau malam2 memang selalu jadi outspoken.. Hmm, tak apalah..
Ummi ku Sayang*… November 8, 2011
Posted by inasakamila in Uncategorized.add a comment
*sebuah lagu, oleh Soutus Sofwa (Malaysia)
Ummi ku Sayang
Memancar sang suria
menyinar cahayanya
begitulah berseri
wajah ummi ku sayang
Aku sayang ummi
ummi ku sayang ummi
sayang sayang ummi
ummi ku sayang
Walaupun ummi letih
mengasuh kami ini
namun masih tersenyum
menyejukkan hati
Aku sayang ummi
ummi ku sayang ummi
sayang sayang ummi
ummi ku sayang
Bila pulang sekolah
ummi sambut kami
sembahyang sama ummi
alhamdulillah
Aku sayang ummi
ummi ku sayang ummi
sayang sayang ummi
ummi ku sayang
Ummi ku sayang kaulah serikandi
berkorban selalu untuk kami
ummi ku sayang kau ibu mithali
semoga ALLAH kan berkati
Aku sayang ummi
ummi ku sayang ummi
sayang sayang ummi
ummi ku sayang
Memancar sang suria
menyinar cahaya nya
begitulah berseri
wajah ummi ku sayang
Aku sayang ummi
ummi ku sayang ummi
sayang sayang ummi
ummi ku sayangÂ
~lagu ini ‘sesuatu’ sekali… :’)
