h1

Yap, mendidik itu sama sekali tidak mudah…

November 1, 2009

Mila senang mengamati banyak hal,
entah kenapa, belakangan ini tengah tertarik untuk mengamati interaksi antar orangtua dan anak.
Menurut mila banyak hal yang unik dibalik setiap interaksi mereka,
mila melihat gambaran besar: efek timbal balik yang nampak jelas.

Awalnya, banyak belajar dari bagaimana kakak2 men-treatment anak2nya.
Mengamati teh Ella, teh Inna, Aa, teh Iya. Mereka semua memiliki style-didiknya masing2, meski seluruhnya kompak minta dipanggil ayah-bunda. Yap, pokoknya lucu aja, ketika melihat sang anak tumbuh layaknya kedua orangtuanya.

Kemudian,
entah sudah berapa kali melihat orangtua dengan anaknya di bis umum, di mesjid, di jalan, di mall, dll.
Beragam pula jenisnya:

-ibu muda yang tidak sabaran dan berkata kasar, anaknya pun begitu. Nyantai saja mencubit, nyentil telinga, membekap mulut. Tidak segan si anak membalas cubitan ibunya dan membalas dengan kata kasar juga. Merinding mila ngeliatnya.
-ibu yang terlihat ramah dan sayang, anaknya juga kooperatif. Membantu bawain tas ibunya, berbicara lugu dan lucu selayaknya anak2.
-ayah muda yang memangku anaknya kemudian bercerita tentang apa-apa yang ada di jalanan, anaknya pun cerdas dan lucu sekali mengomentarinya. hmm, pengen nyubit!.
-ibu yang berusaha menahan marah, ketika anaknya teriak-teriak sambil nangis minta turun di jalan. Hmm, terlihat sekali rona marahnya,namun karena mungkin ga enak dilihat orang, jadi ditahan marahnya.
-ayah yang sudah tua, menggondong ransel milik sang putra. Keringatnya mengucur, sambil tangan kanannya memegang bahu si anak agar tidak jatuh. Anaknya sabar sekali berdiri seperjalanan, sama sekali tidak mengeluh kecuali bertanya pada si ayah “bapak, masih jauh ya?”.
-dan lain2

Beragam, namun ada garis merah yang bisa ditarik dari kesemuanya. Efek timbal balik: you give it, you deserve it.

Ya, mendidik itu ternyata sangat sulit. Dan dalam berinteraksi dengan anak-anak, kita sepertinya harus lebih banyak memutar otak dan hati. Alasannya tentu saja, karena mereka belum mampu menyusun logika. Apa yang mereka dapat, itu yang mereka tahu, dan seperti itu pula bereka merefleksikannya.

Ingin anak yang baik, maka perlu treatment yang baik pula.

Treatment baik itu yang sulit:
bagaimana mendisiplinkan mereka, tapi tanpa kekerasan.
bagaimana memenuhi kemauan mereka, tapi tanpa membuat mereka manja.
bagaimana mengekspresikan rasa sayang, tapi tanpa membuat mereka ketergantungan.
bagaimana mencerdaskan mereka, tapi tanpa membuat mereka bosan.
bagaimana memuji mereka, tapi tanpa membuat mereka jadi sombong.
bagaimana mengajarkan mereka untuk solat, ngaji, baca doa, makan pake tangan kanan, makan ga boleh diri, buang sampah ditempatnya, hormat sama oranglain, daaaan lain2.

hmm, sama sekali tidak mudah.

Sepertinya kita harus banyak berterimakasih atas segala didikan ayah dan ibu yang sudah membesarkan kita hingga saat ini. Untung saja tidak Allah titipkan dalam rahim seorang ibu yang keras lagi kasar.

Jika saat ini kalian bercermin, dan melihat kebaikan disana, maka sebagian besarnya adalah jasa mereka.

Mengutip ucapan dari seorang kakak: “Allah tidak akan menitipkan anak soleh pada rahim yang salah”.

h1

Dokter?

October 24, 2009

Sore tadi, ibu baru aja pulang ke rumah setelah 6 hari dirawat di RS Fatmawati. Kali ini diagnosisnya, ibu mengalami stroke ringan, ada pembuluh darah yang pecah. Tapi, Alhamdulillah, sekarang sudah membaik dan udah ga lemes lagi.

Seperti biasanya, Rumah Sakit selalu meninggalkan kesan yang luarbiasa. Mulai dari ketegaran pasien lain, ketulusan para perawat, kerendah-hatian para dokter, doa para penjenguk, dll.

Yaaaa,
dan ibu masih saja ingin anaknya jadi dokter… (but i’m the last one)
Menurut ibu, dokter itu pekerjaan paling sosial dan dihargai.
Berkali2 ibu memuji para dokter yang bersedia menegur, yang rendah hati, yang ramah, dan lain2. Ibu bilang, kalau jadi dokter, kita bisa ngebantuin orang sakit yang ga mampu bayar, dan dengan senyuman kita aja, efeknya akan ngaruh banget buat mereka.
Bahkan anaknya teh Ella yang pertama, dinamai sama kayak nama dokter yang pernah nanganin ibu waktu sakit dulu.

Yap, dan ternyata…
mila masih ngiri melihat para dokter muda,
yang terlihat cantik dan ‘berdaya’.
apalagi yang ramah dan baik hati…

hmm, tapi tenang…
walaupun dulu tertolak masuk FKUI,
mila masih saaaangat yakin, Allah pasti mengarahkan mila pada jalan hidup yang terbaik. Pasti.

Fasilkom juga bisa kok,
membuat kita terlihat cantik, ‘berdaya’, ramah, dan baik hati…

(menarik nafas), bismillah…

~hmm, yayaya, dan ibu masih saja bilang: “kalau gitu, suaminya aja nanti yang dokter”… (ding! -_-)

h1

Menikah dini?

October 20, 2009

~hmm, judulnya agak menarik ya kali ini… ^^
~Ya, terlepas dari SETIAP halnya…

Malem minggu, iseng2 obrak-abrik buku-buku islam di kamar…
Ga bermaksud mencari referensi tertentu, hanya iseng2 aja biar refreshing…
Lumayan banyak -punya kakak2- tapi hanya beberapa saja yang pernah mila sempetin baca.

Satu-satu, telunjuk ini menelusuri buku-buku itu,
Buku2nya Anis Matta, buku2nya Hasan Al-Banna, Buku2 kiat menjadi orang sukses…
hingga telunjuk ini berhenti pada sebuah buku tebal berjudul: “Kado Pernikahan untuk Istriku” karangan M. Fauzil Adhim.
Salah satu kado nikahannya teh Iya, masih ada kartu ucapan terselip disana.

“Serem”, itu yang pertama kali terlintas dalam pikiran mila.
Buku model begini ada banyak, tapi mila ga akan mau baca hingga saatnya tepat. Ga pernah mau.

Tapi kok penasaran,
ya sudah, dibuka saja selembar demi selembar,
lihat daftar isinya, lengkap pisan.
Buku setebal 700an halaman itu lengkap membahas pernikahan dari awalnya hingga akhir.

Masih tidak mau melangkah lebih jauh,
Bagian 1, kayaknya save untuk dibaca, itu hanya berisi pembahasan akan persiapan diri.
Lebih dari itu, huaaa, nggak deh, nanti aja.

Hmm…
Pantas saja,
Buku2 Fauzil Adhim begitu laris dan katanya banyak berhasil membuat seseorang tertarik untuk menikah segera.

Baru baca beberapa halaman saja, sudah keluar hadist ini:
“Shalat 2 rakaat yang didirikan oleh orang yang menikah, lebih baik dari shalat malam dan berpuasa pada siang harinya yang dilakukan oleh lelaki bujangan.”

Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan bahwa biasanya lelaki yang belum menikah itu, sudah fitrahnya, memiliki angan2 yang panjang terhadap wanita. Baik yang bersentuhan dengan kebutuhan biologis maupun kebutuhan jiwa.
Dalam keadaan seperti itu, agaknya akan sulit bagi mereka untuk merasakan kekhusu’an shalat dikarenakan bersitan2 hati. Dalam keadaan demikianpun potensi maksiat yang dilakukan akan cenderung lebih besar: pikiran yang sibuk oleh hal2 yang tidak maslahat, mata memandang sesuatu yang tidak halal, mulut bernyanyi dan berkata2 melankolis, dll.
Maka menikah adalah solusinya.

Kemudian dilanjutkan dengan hadist ini:
“Tiga orang yang selalu diberikan pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah karena menjaga kehormatannya” [HR. Thabrani]

Ya, pernikahan adalah masalah menjaga kehormatan diri dan agama, bukan semata legitimasi akan kebutuhan2 diri. Maka niatkanlah sedari awal hanya untuk itu: menjaga kehormatan diri, agar berkah nantinya.

Lalu,
sesi membaca ini, berakhir pada hadist ini:
“Bukan termasuk golonganku, orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah.” [HR. Thabrani]

selama ini, apalagi buat yang masih kuliah… hadist ini agaknya lumayan mencubit.

Yap, sesi membaca selesai,
buku ditutup, dan dikembalikan lagi pada tempatnya.
sudah cukup sampai situ dulu, bisa gawat kalo diterusin.

Lalu?

Ya,
over all, terlepas dari kesiapan diri dan lain2,
menikah secepatnya, sepertinya memang bisa jadi langkah besar menuju kehidupan yang jauh lebih terarah,
sekaligus memutus segala bentuk kemaksiatan2 yang mungkin muncul.

Tapi mila, memang tidak pernah merencanakan apapun, dan memang tidak mau merencanakannya.
Tidak anti pada pernikahan dini, namun tidak juga berniat banget untuk menikah dini.
Masalah kapan umur minimal ataupun maksimal untuk menikah, sekalipun tidak pernah direncanakan.
Biarkan saja segalanya berjalan… (enak ya kalo jadi wanita…hehe).
Toh, dari mila sendiripun, belum memiliki “eagerness” pribadi ke situ, jadi ga terlalu masalah.

Kalau nanti ada yang ‘datang’ ya… (ehem, agak merinding sih bayanginya…)
Allah yang tau kapan saat yang tepat dan Ia pula yang nantinya akan memberikan keteguhan hati sebagai pertanda.

Only God knows how tomorrow will be like,
for you and for my life… (Sherina, My Heart)

~hanya sharing ilmu,
hehe, jangan2 ada yang beneran langsung pengen nikah lagi…^^

h1

Tinggal prasangka baik…

October 16, 2009

~malem2, iseng…

3 hari, Handphone tidak berada di genggaman mila,
ternyata bukan hilang, tapi tertinggal sejak Rabu kemarin dan diamankan oleh salah seorang satpam Fasilkom…

Harusnya hari ini bisa diambil, tapi ternyata beliaunya ga masuk…

Entahlah, sudah berapa banyak orang yang mengontak mila ke Hp itu. Yang lapor bilang, “kok aku nelpon ga diangkat sih mil?” aja udah banyak… apalagi yang lain.

Ya, mungkin saja ada yang pada akhirnya berprasangka macem2…
Menyangka mila ga mau ngangkat telpon lah, ga mau bales SMS lah, dll…

Ya, hapunteun pisan pada mereka.
maaaaaaafffff banget.
harus gemana lagi, semua nomer kontak ada disana…

Sekarang hanya tinggal mengharap prasangka baik dari mereka… semoga.

_trims buat temen2 yang udah bersedia hape nya mila pinjem buat SMS in banyak orang, semoga Allah membalasnya dengan baik…
_maaf sebesar2nya buat mereka yang merasa dicuekin… beneran, ini diluar kuasa mila…

~ChiqDilNiLan, entah kenapa malem ini kangen mereka. Ya ampun, malem itu emang bikin melankolis ya.

~Oh iya, abis baca blog seseorang, blognya emang udah lama banget ga update, tapi setiap kali baca blognya yang dulu2, setiap kali itu juga mata ini berkaca2. Ya, masih tetap mengaguminya, dari segala sisi…

h1

Kesempurnaan Hari…

October 14, 2009

Dengan segala kesempurnaan hari…

dengan hilangnya handphone, hilangnya tempat pensil, hilangnya fd, 3 deadline tugas, kuliah super padat, 2 wawancara tiba2, lalalala… tepat dalam 1 hari

Indah ya…
sepulang dari kampus tadi, masih mampu tersenyum dan tertawa lepas menertawakan hari…

bukan deng,
menertawakan diri.

Ya, bagaimanapun, tetaplah tersenyum mil. Karena muka cemberut itu, jelek!

~Allah pasti punya rencana dibalik semuanya… 1 hal yang harus dilakukan tentu saja ‘melihat ke dalam diri’, “adakah yang salah?”