Langit, matahari, dan bulan… (bag 1) May 30, 2011
Posted by inasakamila in Uncategorized.trackback
Ini cerita tentang matahari, bulan, dan langit.
Suatu hari, bulan bercerita pada langit.
“Langit, aku benar2 cemburu dengan matahari?”
“Mengapa kau cemburu, bulan?”, kata langit.
“Karena matahari tak pernah punya beban. Kau tahu, beribu orang malam ini menitipkan pesan padaku: ‘wahai bulan, sampaikan rinduku pada si anu’. Seperti mereka pikir aku bisa sampaikan saja semua salam rindu itu”, bulan merengut. “Kalau matahari, ku jamin, tak pernah ia dititipi salam2 macam itu. Ia tak punya beban seperti yang ku rasakan setiap harinya”.
Langit tersenyum, “Bulan, bulan, tidak usahlah kau terlalu anggap salam rindu manusia. Seperti kau tidak tahu saja watak manusia yang suka… -apa bahasa nge-trend nya sekarang?- … Galau, ya galau. Manusia, manusia, dapat dari mana istilah ‘galau’ itu, benar2 istilah yang buruk. Lagipula, kau harusnya senang karena setiap harinya ada beribu manusia yang menyapamu. Matahari tak sering disapa langsung, kau tahu itu kan? bayangkan betapa bosannya ia.”
Bulan diam, sebelum meneruskan keluhannya.
“Bukan itu saja, langit. Kau tahu, matahari selalu nampak bundar dan stabil, dengan cahayanya yang luarbiasa terang. Sedang aku, bulatku hanya 3 hari, itu juga kalau tidak ada awan yang menghalangi bulat utuhku.”
Langit sekali lagi tersenyum, “Bulan, kau kira, siang tak pernah hujan?”
Bulan berpikir, “Hmm, ya bukan begitu.”
“Matahari juga tampak muram ketika hujan, bulan. Aku jamin, bahkan ia tampak jauh lebih muram dibanding kau”.
Bulan menarik nafas.
“Dan soal bulat utuh itu… apakah kau pernah dengar manusia berkata ini: ‘Wah, lihat, mataharinya tampak bulat utuh. Cantik sekali!’?”, langit bertanya kesekian kalinya.
Bulan menggeleng, pelan ia berkata, “Yang ada, bulatku yang selalu manusia puji. Mereka bilang: ‘Lihat, bulannya sedang cantik sekali’. Ya, meski hanya 3 hari.”
Langit mengangguk takjim, “Matahari tak jadi istimewa ketika bulat, bulan. Karena setiap hari, ia memang selalu bulat. Akan jadi aneh kalau matahari berbentuk sabit, kan? Tapi kau, manusia benar2 menyadari bulatmu dan mereka selalu mengaguminya. Bahkan bulatmu ‘terayakan’ dengan puasanya manusia kala siang”.
Langit bertanya lagi, “Apa lagi sekarang yang kau cemburui, bulan?”
Bulan masih mencoba berpikir. Perasaan cemburunya belum hilang. “Oh iya, satu lagi, kalau aku pikir, adanya aku tak lebih berguna dari adanya matahari. Ia benar2 dibutuhkan manusia, untuk menerangi siang, untuk mengeringkan pakan, dan lain sebagainya. Sedang aku? kurasa aku hanya menjadi pajangan langit malam, korban bagi manusia yang sedang galau”.
Kali ini senyum langit hilang. Wajahnya tampak lebih serius. “Hei bulan, masih saja kau tidak bersyukur. Lihat dan perhatikan. Matahari bekerja sangat sangat sangat keras setiap harinya, bulan. Ia harus terus menjaga sinarnya agar tetap bisa menerangi dunia. Mana ada sinar matahari meredup? kecuali awan2 itu sedang melintas dihadapannya dan menutupi sinarnya sekejap. Matahari harus bekerja keras demi memenuhi harapan manusia padanya. Redup sedikit, akan jadi apa reputasinya?”
Langit tampak lebih tegas. “Sedang kau bulan, setiap hari tugasmu tinggal diam saja, sekedar memantulkan cahaya si bintang. Tak butuh banyak tenaga kan? lagipula, memang tugasmu hanya itu. Tugasmu sesederhana itu. Menemani manusia yang ‘galau’, menemani meraka yang istirahat dalam tidurnya, dan mengingatkan manusia untuk mengingat tuhanNya lewat keberadaanmu. Kau mau redup, kau mau terang, bukan jadi soal.”
Bulan menunduk gusar. Entahlah, sepertinya belum puas rasanya, masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Bulan berpikir keras. Apa lagi ya? bertanya2 ia dalam hati.
“Langit, masih ada banyak yang bisa ku cemburui. Matahari lebih banyak disebut manusia sepertinya dibanding aku. Matahari sepertinya punya nama yang lebih bagus dibanding namaku. Matahari lebih …”, bulan terus menerus bicara. Semakin lama alasannya semakin tak masuk akal.
Langit tak lagi peduli. “Hei, sudah hampir fajar, bulan. Untunglah. Kalau tidak, semakin lama semakin pusing kepalaku mendengar ocehanmu yang semakin tak penting itu. Sudah, gantian tugasmu dengan matahari.”
Bulan patuh. Kepatuhan refleks. Ia memang diciptakan untuk pergi setelah fajar, dan tidak bisa tidak. Sebelum pergi, ia berpesan, “Hei langit, jangan pernah ceritakan kecemburuanku pada matahari”.
Langit mengangguk malas. “Mudah2an tidak keceplosan ya”, langit berujar nakal.
Bulan pergi. Matahari pun tiba. Tanpa disangka, matahari juga tiba2 bercerita tentang kecemburuan yang sama.
>> bersambung
~Cerita karangan iseng di malam hari. Hehe, siapa yang mengerti apa ibroh cerita ini?

Pertamax
Bulan mencerminkan si penulis kyknya nih..
Ga juga kok ka…
Ini bukan tentang saya…
iya lah.. kan ini tentang langit, matahari dan bulan.. bkn ttg mila
BTW, pesan yg ingin disampaikan ini bukan:
tentang ketidakegoisan, saling mengisi dan saling melengkapi
Aku yakin yang pegang kunci di endingnya si Langit.. betul kan
~terinspirasi buat bikin postingan di blog jg
betul2 mil..selalu bersyukur di tiap keadaan yang diberikan oleh Allah.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216)
Sesungguhnya Allah mengetahui yang terbaik bagi hambanya. Good writing.
=spoiler bagian 2=
Matahari pun datang beriringan dengan datangnya fajar.
Beberapa menit matahari terdiam, langitpun bertanya, “Matahari, kenapa kamu diam saja?” Bukannya di pagi hari kamu biasanya lebih bersemangat? Seperti orang-orang di bawah sana yang memulai paginya.
Matahari tetap berdiam diri. Langit pun menunjuk kepada beberapa pasang ibu dan bayinya yang sedang berkeliling taman, “Lihat, mereka berkeliling taman hanya untuk bertemu denganmu.”
Langit gagal membuat matahari berbicara. Matahari tetap berdiam tanpa suara.
Akhirnya langit pun membuka topik, “Matahari, apakah kamu tidak iri pada bulan? Kenapa kamu tidak bercerita padaku saja?”
Setelah beberapa saat tidak menjawab juga, akhirnya langit pun memulai pembicaraan mengenai keluhan yang diceritakan bulan. Panjang lebar langit bercerita tentang apa yang bulan keluhkan, dan bagaimana bulan begitu iri dengan matahari. Langit pun menjelaskan bagaimana ia berusaha menjadi penengah yang baik dengan membiarkan bulan bercerita dan menasehati bulan untuk bersyukur dengan apa yang Allah berikan.
Sungguh aneh, matahari tetap saja tidak bergeming.
Namun, beberapa saat kemudian, akhirnya matahari pun berkata walaupun pelan sekali, “Langit, aku lagi sariawan nih, minta Vitaciminnya dong”
=the end of the story=
@ka jono: hmm,liat ntar aja deh ka… Bisa jadi ceritanya berubah dari yang awalnya dibayangin,hehe…
@ka deni:
Komen ke-1: ngangguk2 serius…
Komen ke-2: -_-’. Bener2 ngerusak cerita nih… Ampun…
Afwan..sekedar intermezo =) =)
Jon, mil, pesan sponsor nih, dateng yah nanti ^^
Oh iya mil, makasih ya selama ini tulisannya sudah bermanfaat. Mungkin gw cuman mewakili beberapa orang yang pernah berkunjung kesini. Semangat mil! Tetep nulis sampai kapanpun, karena mungkin suatu hari ada bagian di tulisan ini yang bisa jadi pencerahan buat yang baca.. =)
Keep up the good work!
@ka deni:
Beres ka…
Selamet ya! Akhirnya nikah juga (sama dokter lagi), hehe
Moga berkah pernikahannya…
Insya Allah disempetin dateng kalau ada temennya… ~soalnya malem, mesti nyari barengan, hehe
bukannya yang biasa dititip salam si bintang ya? (dan matahari termasuk bintang)
-mewakili perasaan anak galau-
@AG: Hmm, cerita ini sederhana aja.. Konteksnya sosial, bukan science.. Jadi disini, anggap aja matahari bukan bintang.. Dan secara kenampakan dari bumi, matahari memang tak tampak seperti bintang.. Tentang titip2an salam, kalau menurut saya, bulan lebih famous untuk itu..