Tarbiyah Dzatiyah… * October 23, 2011
Posted by inasakamila in Uncategorized.trackback
*salah satu bab di buku Pilar-Pilar Asasi, Ust. Rahmat Abdullah (Alm)
Tulisan beliau memang selalu luarbiasa: tajam, dalam, dan tepat sasaran.
Kali ini me-review kembali salah satu buku beliau yang ada di rumah: PIlar-Pilar Asasi.
Dan kembali nyessssss ketika sampai pada bagian akhir bab Tarbiyah Dzatiyah.
Simak paparannya:
Kita adalah satu diantara dua profil berikut. Alkisah, dua pasang belia membangun rumah tangga. lepas walimahan, sang suami pun harus berangkat lagi membina kader-kader dakwah, kerja yang biasa dilakukan sampai larut malam. Malam yang panjang tanpa suami pun menderanya, membungkusnya dalam selimut sunyi lalu melemparnya dalam nyala bara yang menghanguskan keindahan hari-hari madu mereka. Perang pun mulai berkecamuk, zaujati au da’wati? (istriku atau dakwahku?.
Dengan mantap sang da’i merangkum kata menang: “Adindaku, kita bertemu di jalan dakwah. Allah melimpahkan kebahagiaan kepada kita dengan membimbing langkah kita ke dakwah yang diberkahiNya. Haruskah kita meninggalkannya, sesudah kekuatan itu bersatu dan bertambah untuk lebih meningkatkan kontribusi kita bagi dakwah? Jangan kita langgar janji kita kepada-Nya, sehingga keturunan kita kelak akan tercerai berai oleh khianat kita.”
Tahun-tahun dakwah silih berganti. Ketika bayang-bayang kejenuhan dan kepenatan melintas, istri tercintalah yang tak bosan-bosan mengobarkan semangat dakwah dan pantang menyerah. Sampai anak-anak mereka tak punya pikiran untuk menyuruh tamu-tamu menelepon di lain waktu karena ayahnya sedang istirahat. Mereka berlomba membangunkannya. Ia jadi yakin, dakwahlah yang membangunkannya bukan anak-anak yang berkolaborasi dengan tamu dan penelepon yang tak tahu etika itu.
Profil yang satu lagi menghadapi hal yang sama,, “istriku atau dakwah?” Satu jurus saja ia jatuh. Ketika di evaluasi, ia menangis dan bertekad, hujan, guntur dan badai tak boleh lagi menghalanginya dari tugas dakwah. Dan saat ia bertekad untuk melaksanakan tekad dan ikrarnya, tiba-tiba terdengar suara sang mertua. “Mertuaku atau dakwahku?” Sekali lagi ia tersungkur.
Tahun-tahun berbilang, kedua profil ini bertemu , yang satu dengan produk dakwah penuh berkah yang lain dengan kemurungan, dunia yang membelenggu dan urusan keluarga yang tak kunjung selesai.
Singkirkan frame mengenai urusan kerumahtanggaan itu, karena poinnya sama sekali bukan tentang itu.
Inti tulisan ini, semua sebenarnya bermuara pada kualitas tarbiyah dzatiyah dari profil-profil tersebut.
Baiknya, buruknya, lancarnya, buntunya, lapangnya, sesaknya…
Dimana posisi kita?
Ini dia yang membuat nyesssss.
Apapun, poinnya sudah jelas, there’s nothing to say more…

kikiki..
kirain mila lagi belajar menghadapi masa2 seperti itu kelak :p
yang pasti, bersyukurlah jika suatu hari kelak suami kita adalah seorang da’i.. karena hidupnya tidak hanya untuk dia dan diri kita, tapi untuk umat juga..
Fiuh, susah emang ya kalo yang baca mikirnya ke situ melulu, hehehe.
Maksudnya kemana, dikira kemana… :p
Amin, mudah2an dapet yang sepert itu ya fit.
Meskipun konteks tulisan ini jauuuuuuuuuuuh dari maksud tersebut. Lebih sebagai refleksi untuk diri sendiri.