jump to navigation

Apa ya judulnya… February 23, 2012

Posted by inasakamila in Uncategorized.
4 comments

~supaya ngga merem lagi setelah subuh, jadi beride untuk merutinkan nge-laptop setelah subuh. #heh, bukannya ngaji atau matsuratan? ngaji ko… abis ngelaptop tapi… :p

Saya pernah menulis tentang ini dulu sekali. Tapi sekarang merasa ingin menulis lagi.
Saya ngga tahu ini terjadi pada orang lain atau tidak, tetapi yang pasti ini terjadi pada saya.

Ada orang-orang yang kalau saya bersamanya, saya bisa menjadi utuh. Orang-orang ini, entah bagaimana, bisa memberikan energi positif yang luarbiasa. Mereka bisa membuat saya lebih mempercayai kekuatan yang ada di dalam diri dan membuat saya yakin bisa mencapai impian-impian yang saya rencanakan. Oh ya, tentu saja dalam fase ini saya sangat butuh mereka…

Tetapi, ada juga yang sebaliknya. Kalau bersama orang-orang ini, selalu saja, membuat saya kehilangan energi. Tidak tahu kenapa, saya jadi tidak bisa bergerak kalau ada di dekat mereka. Mereka terlalu ‘kuat’, dan itu membuat saya selalu merasa ‘terjepit’, kelu, dan pasif.
Orang ini tidak salah. Sama sekali tidak. Hanya saja, efek yang jatuh ke saya tidak bagus.

Prihal ini, saya jadi ingat tulisan Anis matta di buku Model Manusia Muslim Abad 21 (kalau saya tidak salah ingat). Di sana, beliau menulis mengenai ini juga. Beliau mengisahkan pengalamannya bergaul dengan bermacam orang, dan merasakan ada orang-orang tertentu yang bisa membuatnya… ya, seperti yang saya rasakan itu. Solusi yang ia berikan sederhana: Menjauhlah dari orang-orang itu.

Hmm…
Masalahnya, ini tentang seseorang yang selama ini dekat dengan saya.
dan selama itu juga saya merasakan efek ‘negatif’ yang sama.

Saya menyayanginya, indeed. Ia orang yang sangat menginspirasi bagi saya.
Tetapi, setiap efek negatif itu muncul, saya jadi merasa terpecah: satu sisi sayang, satu sisi sebal.
Hah, pokoknya tidak bagus lah.

Karena itu, saya meminta Allah untuk mengizinkan saya ‘menjauh’.
Bukan ‘menjauh’ yang frontal, tetapi memilih untuk tidak bergerak di tempat yang sama lagi.
Supaya masing-masing bisa memberikan potensi paling maksimal di tempatnya masing-masing.
Supaya saya bisa meneladaninya dari jarak yang tepat.
Supaya saya bisa menyayanginya dengan lebih utuh… :)

 

 

*best wishes for her… :)

Share: kultwit #doa @salimafillah February 19, 2012

Posted by inasakamila in Uncategorized.
3 comments

kultwit #doa @salimafillah.

Abis mampir ke blognya ka Hening dan ternyata beliau merangkum tweet-nya Salim A. Fillah tentang #doa.

Isinya, simple tapi ngena banget… Jadi kudu di share…

 

*Kebetulan pas banget banget. Sudah lama saya juga ngga sreg mengenai doa yang terlalu spesifik ini, karena setiap saya berdoa yang terlalu spesifik, bawaannya ga enaaak gitu. Takutnya, apa yang kita minta bukannya yang terbaik. Jadi serahkan saja sesuatunya pada yang Maha Mengetahui…

He always knows the best, as always… :)

Sensasi Februari… :P February 13, 2012

Posted by inasakamila in Uncategorized.
add a comment

~pagi hari, di lantai atas sambil gelar karpet

Buat saya dan keluarga,
Februari bermakna satu hal: Siap2 banjir!

Yap! laporan terkini: rumah saya sekarang lagi banjir. Sedengkul di jalan, sebetis di dalam rumah.
Walau tidak ada hujan, air tiba-tiba aja masuk ke rumah tengah malam kemarin. Jadilah kita sampai jam 3 masih mangeksekusi barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Biasanya pagi hari sudah surut, tapi sampai saat ini masih banjir.

Seperti biasanya, dan sepertinya saya pernah cerita juga di blog ini dulu: Banjir itu biasa (maklum, perumahan padat penduduk), dan kita senanggg kalau banjir. *ini serius.
Itu di bawah, Hana, ayahnya, sama bundanya lagi main air (*dasar PNS, banjir aja izin kerja…).
Ibu lagi ngobrol sama tetangga depan dari teras lantai atas.
Apa di samping saya, tetep setia dengan berita TV one jam segini.
Saya, pengen update banjir di blog… *hehe, ga penting ini kerjaan orang unemployed

Oh ya… ini harus diingat (*sekaligus disyukuri). Kami punya rumah tingkat, fasilitas memadai. Jadi kalau banjir, ga terlalu jadi masalah.
Tapi kalau yang rumahnya ngga tingkat, banjir mungkin bukan jadi perkara kecil (*apalagi menyenangkan).

Jadi tetap ya, Jakarta akan lebih baik tanpa banjir! Jangan sampai pemerintah mikir kalau banjir itu biasa dan bukan masalah besar. Mungkin iya kalau buat kami yang Allah kasih kondisi yang memadai, tapi mungkin tidak bagi sebagian besar yang lain. Apalagi kalau banjir sampai ke jalan, ini pasti bikin macet dan menghambat banyak hal.

~sudahlah, sekian. Pengen main air lagi… :p

Rekap-rekap… February 12, 2012

Posted by inasakamila in Uncategorized.
2 comments

~oh ya, sebenarnya belakangan ini jadi suka males nulis, tapi untuk beberapa hal ini sepertinya harus ditulis. Supaya, suatu saat nanti, ketika keimanan saya sedang turun, saya bisa merasakan kembali bahwa: Allah selalu punya cara untuk membuat hambaNya-yang-nakal kembali merasakan eksistensiNya.

10/02/12

Ini akan jadi hari biasa, jikalau saya tidak harus pergi ke kampus untuk suatu hal yang ‘mendesak’ (hoho).
Ya, mendesak, selalu seperti itu sepertinya (*senyum miris), tapi kadang saya berpikir, dengan cara ini saya benar-benar bisa merasakan pertolongan Allah di saat terakhir (*mencari pembenaran, hehe).
Sore hari dengan hujan-badai-angin yang dramatis (super lebay). Payung saja tidak bisa melindungi saya dari basah kuyup.
Tetapi sore itu ditutup dengan indah: lengkungan pelangi setengah bulat yang sempurna di langit timur.
Pelangi pertama yang saya lihat, sejak… saya tidak ingat, mungkin belasan tahun yang lalu.
Hmm, jika orang lain menyikapinya dengan biasa, saya tidak. Saya tahu itu cara Allah menunjukkan eksistensiNya. Saya ini anak-nakal, jadi saya sebenarnya tidak berani bilang kalau itu cara Allah untuk berkata: “Wahai hamba-Ku, badai akan jadi indah pada akhirnya, jika sinar matahari itu ada bersamanya” (jieh).
Tetapi, bolehkan kalau saya berharap (*katakanlah berimajinasi) begitu?

11/02/12

Another inspiring day.
Dari pekan lalu, hingga 4 pekan kedepan, saya bakalan kondangan setiap akhir pekan. Ada 8 undangan pernikahan berturut-turut *belum kalau nanti ternyata nambah. Hoho, saya sih seneng-seneng aja. Belum ada rasa2 galau ditinggal banyak orang nikah (haha), karena pada dasarnya intensi kesana memang belum ada banget. Tapi saya tidak naif, kalau jadi mulai mikir, nanti kalau saya nikah gimana ya? gimana pelaminannya, makanannya, souvenirnya, bajunya, make-upnya, tamunya, hijab-antar-tamunya, dll. Ya, biasa lah, saya rasa semuanya juga pasti sudah mulai mikir kesana (iya kan?). Baiklah, stop ngomongin yang ini ya…

Setelah kondangan, saya langsung melaju ke UNJ untuk tes BI tahap 1.
Ikut seleksi BI ini benerrrrr-benerrrrrr bikin saya mikir.
What a life! ini kita hidup buat apa sih? mau jadi pegawai aja ribednya bukan main.
Dimulai dengan iseng (*karena baru daftar 1 jam sebelum waktu registrasi ditutup), akhirnya masuk ke dalam ‘pergulatan’ ini juga.
Tesnya saja sampai 7 tahap.
Tetapi, walaupun ribed, tetep aja dijalanin juga (ckckck).
Setelah lulus kuliah, orientasinya jadi berubah begini. (ya sudahlah…)

Kembali ke tes BI…
Perjalanan ke UNJ juga okeh…
Berhubung akan jadi panjang kalau saya ceritain… tapi pokoknya intinya, ini kali pertama saya naik ojek super ngebut, dan saya ga ngitung berapa kali itu bapak ojek menerobos lampu merah (*hah, padahal biasanya saya paling sebelll kalo liat orang ngga taat aturan di jalan, tapi kalau sendirinya terdesak? hmm, dasar manusia).
Sampai disana telat 15 menitan, ternyata belasan peserta tes masih nunggu di depan ruangan: “ruangannya penuh mba, jadi kita diminta nunggu” (fiuh…). Setelah lumayan waktu menunggu, akhirnya kita dieskalasi menuju ruangan yang lain. Ya, dan tes dimulai.

Tesnya juga dramatis.
Tes potensi akademik: CFIT, Kraepelin, GMIT. Saya ga tau harus ngomong apa untuk tes satu ini. Pokoknya, saya itu super familiar dengan ketiga tes itu *secara teteh saya psikolog. Tetapi saya bisa jamin, somehow, Allah bikin saya ngga pernah punya niatan untuk membuka soal-soal punya teteh sekalipun sebelumnya *meskipun akses buat itu terbuka lebaaar. Jadi saya murni ngerjainnya *meskipun rada2 nyesel gitu, hehe. Dan, yang membuat lebih dramatis adalah: saya membuat bolong besar di tengah-tengah kertas komputernya. Seumur2 ngerjain soal di kertas komputer, saya ngga pernah sekalipun ceroboh seperti ini. Ya, saya pasrah aja deh… *saya senyum2 aja saat itu ngeliat betapa ‘dramatisnya’ hari itu, hihi.
Tes berlanjut pada tes kemampuan umum dan kemampuan khusus. 60 soal yang semuanya tentang ekonomi dan perbankan. Bengong, tersenyum polos. Dan ini beneran: hanya 1 soal yang saya yakin jawabannya bener, itu juga karena soalnya super-gampang-yang-anak-sd-juga-tau.
59 soal yang lain? hehe, diisii dengan senyum yang mengembang, rasanya seperti main tebak-tebakan. Yang lain belum selesai, saya udah selesai duluan.

Haha. Jadinya cuma bisa ketawa. Ketawa penuh makna tapi ini…
Saya ga tau ya, Allah sedang punya rencana apa.
Tapi saya tau pasti rencana Allah pasti yang terbaik.
Kalau ternyata nanti lolos (*walau ini akan jadi ‘super mengejutkan’), Allah pasti sedang merencanakan hal baik lainnya.
Kalau ternyata tidak lolos (*ya, dengan segala ‘kedramatisannya’), Allah pasti juga sedang merencanakan hal baik lainnya: setidaknya memberikan pelajaran pada si-anak-nakal-ini.

Rasanya masih banyak yang ingin diluapkan, tapi nanti tulisan yang random ini akan jadi semakin random.
Yang jelas, kalau ditanya apa hikmah yang saya dapat dari semua ini?
Hmm, saya mendapat saaaangat banyak pelajaran.
Tetapi ada satu hal yang paling berharga yang saya rasakan:
Kesadaran bahwa,
Allah itu selalu membersamai kita. Pada setiap badainya, pada setiap pelanginya.
Allah selalu bisa membuat kita merasakan keberadaannya, dengan caraNya sendiri.

Terakhir,
Kesadaran bahwa,
Allah akan tetap menjadi segala-galanya. Melebihi apapun,
Saya tahu saya nakal, tapi saya ngga pengen Allah menjauh.
Saya pengen Allah tetap dekat, dan sering-sering membuat saya merasakan Ia dekat.

~tulisan-super-random.

Miskin karena jauh dari Allah February 3, 2012

Posted by inasakamila in Uncategorized.
2 comments

~masih di bus.

Memang ya, yang harus dikasihani sebenarnya bukan (hanya) tentang kemiskinan. Tapi jauhnya orang2 miskin itu dari Allah.

Di kampung saya, kalau diukur secara jumlah pendapatan, jauh lebih banyak orang miskinnya dibanding di jakarta. Masih banyak yang pendapatannya hanya 5-10 ribu perhari dari jualan hasil kebon, tapi tidak nampak hina atau ingin dikasihani. Mereka nampak cukup dengan pendapatannya itu.
Lihatlah, disini, hampir semua keluarga dekat dengan masjid. Masih menghargai sakralitas waktu shalat dengan rutin membaca quran bada subuh dan magrib. Maka pasti Allah menurunkan keberkahan akan rizki dan kelapangan pada hati mereka.

Saudara2 ibu di kampung sebagiannya bukan termasuk orang mampu. Kerjanya hanya bertani dan berkebon. Pendapatannya tidak menentu, kadang ada kadang tidak. Tetapi, mereka sama sekali tidak tampak kekurangan. Setiap kami berkunjung ke kampung, selalu disediakan seabreg makanan: potong ayam kampung, bakar ikan mas berkilo-kilo, dsb. Saya tidak bisa describe lagi deh ketulusan2 mereka.

Lihat di jakarta. Saya pernah bertanya pada salah seorang ibu2 yang ngamen di bawah jembatan pasar rebo. Penghasilan rutin ngamen ia dan anaknya sekitar 50ribu perhari. Jajan anaknya saja 10ribu perhari.
Tetapi masih kurang, katanya.
Bajunya lusuh. Anaknya tidak sekolah. Saya tanya ia solat atau tidak, jawabnya kadang-kadang.

Hmm, saya ngga bilang kemiskinan bukan masalah. Tetapi, ada titik tekan yang lain yang harus bisa ditangani.

~ngomong itu gampang ya. Saya juga masih bingung ingin memulai dari mana.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.