Cerita Iseng-iseng
Strawberry dan Pepaya
(Bagian 3)
Kakak Septi adalah anak perempuan kecil berkulit cokelat. Tubunya cenderung kecil dan kurus jika dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Rambutnya tipis sebahu, berwarna hitam agak cokelat karena terbakar matahari. Jika tertawa, kita hanya akan melihat gigi taring atasnya saja, karena gigi serinya ompong dan menghitam. Alisnya nampak begitu tipis hingga Hana sekali bilang, “Kakak septi kok ngga punya alis?”. Hidungnya bulat kecil, kontras dengan bibirnya yang tipis dan lebar. Yang menarik adalah lesung di pipinya setiap ia tersenyum dan tertawa. Jadi meski secara keseluruhan ia tidak bisa dibilang cantik, ia akan terlihat lebih manis ketika tersenyum dan tertawa. Sepertinya ia menyadari kelebihannya itu, sehingga ia menjadi begitu sering tersenyum.
Di kakinya, beberapa bekas luka jelas terlihat pada kedua lututnya. Bagaimanapun ia bangga dengan luka-luka tersebut. Berulang kali ia menceritakan kepada Hana penyebabnya yang kebanyakan karena kecerobohannya ketika memanjat pohon belimbing. Kaki dan tangannya berhiaskan kuku-kuku yang hitam kotor, tapi sesekali menjadi bersih ketika teteh Ati memotong tandas kelebihan kukunya.
Tentu saja akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Hana.
Hana adalah Balita gendut berkulit putih. Rambutnya yang keriting tebal nampak seperti awan hitam yang menggumpal diatas kepalanya. Rambutnya mencapai punggung jika basah, tetapi ketika kering, panjangnya menjadi sebahu saja. Hana memiliki alis seperti bunda, panjang dan hitam. Matanya bulat dan besar. Hidungnya seperti ayah, bulat namun mancung. Bibirnya kecil tipis, tidak mirip siapapun. Meski tidak memiliki lesung pipi, perpaduan alis yang panjang melengkung, mata yang besar dan bibirnya yang kecil membuat senyumnya teramat manis seperti permen. Karena gendut, perut, tangan, dan kakinya nampak begitu gempal berisi. Namun dengan perpaduan itu semua, Hana menjadi anak yang sangat lucu, manis, dan menggemaskan. Bahkan dengan gigi depan yang ‘grepes’ dan suaranya yang nyaring, kelucuannya menjadi berlipat. Tidak ada orang yang tahan untuk tidak mencubit pipi tembamnya. Hana juga tampaknya bisa merasakan bahwa dirinya menarik perhatian banyak orang, karena ia tampak begitu senang ketika banyak orang yang menyapanya.
Entah bagaimana, dengan segala perbedaan itu, Hana dan kakak Septi bisa menjadi pasangan yang sangat akrab. Keduanya sama-sama adalah anak yang ceria, suka tertawa, dan suka bermain. Meski begitu, keduanya masihlah anak kecil dengan segala egonya.
Kakak Septi benar-benar tidak ingin bermain dengan Hana pada hari kejadian ‘perebutan’ sendal merah itu. Sepanjang hari, ia main sendirian di teras lantai atas, bermain rumah-rumahan dengan bangku lipat bekas dengan atap dari kain gendongan.
Setelah Hana mendapatkan sendal merahnya dan melompat-lopat senang, ia nampak begitu lelah dan mengantuk. Teteh Ati langsung saja membuatkan Hana susu dan menidurkannya diatas kasur. Teteh Ati tidak peduli kalau kakak Septi ngambek. Setidaknya ia jadi tidak harus mengawasi kedua anak kecil itu dan bisa berfokus pada pekerjaan rumah yang mengantri untuk dikerjakan.
Hana tidur dengan begitu lelap. Ia belum mengerti, bahwa salah satu kakak terbaiknya sedang merengut. Untuk pertama kalinya, kakak Septi merasa bahwa ia memang berbeda, harus senantiasa mengalah karena status ibunya yang hanya seorang pembantu rumah tangga.
***
Bersambung…
***
Hmm, mau dibawa kemana ya cerita ini? Aku sendiri bingung… hehe. Ya sudah, biarkan mengalir saja dulu…
![]()
Strawberry dan Pepaya
(Bagian 2)
Sejak hari itu, Hana selalu minta ke sekolah. Setiap jam 07.00 teng, Hana pasti sudah bertanya, “Bunda, mau sekolaaaaah…”
Akhirnya TKA menjadi keseharian untuk si gendut berusia 2 tahun ini. Sekolah itu adalah TKA/TPA yang terdapat di sebuah Mushalla kecil. Dekat dengan rumah Hana, hanya perlu berjalan 5 menit dengan melewati 2 gang sempit perumahan padat penduduk. Bunda akhirnya meminta izin kepada Bu Nur, guru yang mengurus administrasi TKA/TPA, untuk mengikutsertakan Hana sekolah dengan ikut membayar administrasi sekolah yang sangat murah. Bu Nur dengan senang hati menerima, Hana tidak pernah menyulitkan di sekolah asalkan diberikan pensil dan buku coret-coretan.
Hana menjadi salah satu ‘artis’ di sekitar rumahnya. Sambil digandeng oleh kakak Septi, Hana pasti mendapatkan banyak sapaan dari para tetangga yang gemes melihat pipi tembam dan badan gendut yang terbalut baju gamis bergambar boneka dan tas kecil di pundaknya. “Hanaaa, mau sekolah ya?”, “Hanaaa”, “Hana mau kemana?”.
Kata kakak Septi, Hana sangat pintar di sekolah, tidak pernah menangis. Ia disediakan meja kecil seperti teman-teman yang lainnya. Hana ikut belajar baca doa, belajar menyanyi, belajar membaca bacaan shalat, belajar menggambar, belajar mewarnai, bahkan ketika Hari Kartini, Hana ikut-ikutan dipakaikan pakaian daerah seperti teman-teman lainnya. Bedanya hanya 2 hal, Hana tidak ikutan baca Iqra dan hasil karya Hana tidak ikutan dinilai. Ya, tentu saja, karena kalau dikasih kertas, Hana baru bisa membuat garis-garis spiral dan lingkaran yang ia sebut, “gambar orang” atau “gambar mesjid”.
Praktis, kakak Septi menjadi sahabat setia Hana kemana-mana. Menemaninya di sekolah juga menemaninya bermain dan belajar di rumah. Hana diajarkan membaca doa, menyanyi lagu-lagu islam, diajarkan permainan-permainan khas anak kecil, dan juga diajarkan menggambar. Kakak Septi memang anak yang mandiri dan cekatan. Di usianya yang sekecil itu, ia sudah cekatan menjaga Hana dan menolong teteh Ati melakukan hal-hal kecil. Maka jangan heran jika di usianya yang baru menginjak 2,5 tahun, Hana sudah bisa membaca 8 jenis doa, semua bacaan shalat, 10 lagu islam, juga menggambar orang dengan bentuk yang sangat bagus.
“Aku punya sendal merah dong” Kakak Septi memamerkan sendal merah yang baru dibelinya di Pasar Malam pada Hana.
“Iiiih, aku mau juga sendal merah” Hana mulai merengek. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai.
“Ini kan punya kakak, nanti Hana minta beliin ya sama Bunda” Kakak Septi menyembunyikan sendal di belakang badannya.
“Aaaaa, aku juga mau sendal merah” Tangis Hana menjadi-jadi. Kalau sudah teriak, suaranya bisa terdengar kemana-mana.
Teteh Ati yang sedang menyetrika turun tergopoh. Dilihatnya Hana yang menangis keras. Di depannya, kakak Septi memegang erat sendal bebek merahnya.
“Diapain ini adeknya, Sep?” teteh Ati melotot tegas ke arah kakak Septi.
Kakak Septi merengut, diangkatnya keatas sendal merahnya, “Ini mah, masa katanya Hana mau juga sendal merah”.
“Yaudah, dipinjemin adeknya sebentar”
Bibir kakak Septi semakin merengut, “Ini kan sendal baru Septi, mah”.
“Iya, dipinjemin dulu adeknya. Masak sama adeknya pelit sih”
Tangis Hana sudah mulai reda. Sepertinya ia merasakan ada nada pembelaan dari teteh Ati-nya. Ragu-ragu, kakak Septi menjulurkan tangannya dengan sendal bebek merah yang masih kinclong. Matanya berkaca-kaca.
Hana langsung mengambil sendalnya, sambil mengelap ingus dan air mata dengan lengannya. Tangisnya sempurna berhenti. Dipakainya sendal merah yang sedikit kebesaran itu. Kemudian loncat-loncat berputar.
Kakak Septi hanya bisa melihatnya tanpa tertawa, tidak seperti yang biasa ia lakukan jika melihat Hana melakukan hal-hal lucu. Air matanya tidak bisa ditahan, mengalir dari sudut matanya ke pipinya yang cekung. Ia lari keatas, memutuskan tidak mau bermain dengan Hana hari itu.
***
Bersambung…
***
Huah, kenapa jadi seperti cerita biasa ya… Gapapa lah, latihan menulis memang ga selalu dimulai dengan bagus, hehe.
Strawberry dan Pepaya
(Bagian 1)
“Hana mau ikut sekolah sama kakak Septi, Bunda…” Hana merengek. Bibirnya dimanyunkan.
Bunda tersenyum sambil mengelus rambut Hana yang keriting, ia berjongkok agar matanya sejajar dengan mata Hana, “Yah, Hana kan masih kecil, nanti kalau Hana udah sebesar kakak Septi baru sekolah, yah?”
“Aaaaah, Hana mau sekolah sama kakak Septiii…” Rengekannya semakin menjadi.
Tangan mungil gendutnya menarik-narik jilbab Bunda yang sudah rapi. Bunda jadi mengernyit sendiri sambil melihat jam tangannya. Sudah pukul 07.00. Harus segera berangkat kalau tidak mau ketinggalan bis jemputan kantornya. Si Ayah sudah berangkat duluan setengah jam lalu.
“Iya iya, yaudah boleh sekolah sama kakak Septi. Sekarang Hana mandi dulu sama Teteh ya, baru sekolah.” Akhirnya bunda menyerah, menatap mata Hana yang besar berkaca-kaca.
“Teh, ini nanti Hana dipakein baju gamis yang biru aja ya, yang ada pasangan jilbabnya. Terus nanti bilangin aja ke Ibu Nur, nitip Hana. Bawain buku sama krayonnya supaya bisa nyoret-nyoret. Oh iya, nanti sambil disuapin aja disana ya Teh.” Bunda menginstruksikan Teteh Ati.
Teteh Ati baru bekerja di rumah Bunda kurang lebih sebulan ini, usianya tidak jauh dari usia bunda, mungkin masih sekitar 25 tahun. Bekerja pulang pergi, datang setiap pukul 6 pagi, kemudian baru pulang setelah bunda pulang dari kantor menjelang maghrib. Kakak Septi adalah anak teteh Ati, usianya baru 6 tahun dan sekarang masih sekolah di TK Islam Al-Hidayah di Mushalla dekat rumah Bunda. Setiap hari, sebelum ke sekolah, kakak Septi selalu ikut Mamahnya ke rumah Bunda dulu. Baru, menjelang pukul 07.00, teteh Ati mengantar kakak Septi ke sekolah.
Teteh Ati sigap menggendong Hana. Wah, pasti sangat berat, mengingat berat Hana sudah naik menjadi 18 Kilogram di usianya yang baru 2 tahun ini.
“Bunda berangkat dulu ya Hana sayang, ngga boleh nangis ya di rumah, nurut sama Teteh dan Kakak.” Bunda menyalamkan tangannya sambil mencium kening Hana.
Hana diam saja, hanya mengangguk kecil. Mulutnya masih manyun.
Bunda juga menyalamkan tangannya pada kakak Septi yang disambut dengan sigap sambil tertawa memperlihatkan gigi-gigi ompongnya. Seperti biasa, ia menunggu uang jajan yang selalu Bunda sisipkan ke kantong seragamnya setiap pagi.
“Udah ya, Bunda berangkat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” Hana, kakak septi, dan teteh Ati menjawab kompak.
Bunda tergopoh-gopoh berjalan ke jalan raya. Berharap bis jemputannya belum datang. Sambil juga, berdoa dalam hati, semoga Hana baik-baik saja dan tidak merepotkan di ‘sekolah pertamanya’ hari ini.
***
Bersambung…
***
Hmm, cerita ini campuran fiksi-fakta. Cerita iseng-iseng untuk memekakan diri sendiri saja dan barangkali ada yang ingin iseng-iseng baca juga.
Maaf ya kalau cerita dan tulisannya sederhana, ini pengalaman pertama menulis cerita fiksi. Mudah-mudahan suatu hari ceritanya bisa tuntas hingga akhir…![]()


ayo mil part selanjutnya ditunggu =)
Sudah!
hmm..ceritanya lagi belajar buat cerpen nih mil? hehe
Iye, niatnya sih iseng bikin “cembung” tapi rada2 bingung gitu ngelanjutinnya… hehe, belum berbakat nih…