Keluarga kedua…

Salah satu rezeki yang kadang saya lupakan adalah bisa diberikan Allah sahabat-sahabat salihah. Tempat dimana saya bisa bercerita apa saja. Tempat menumpahkan segala rasa. Tempat menangis. Tempat tertawa. Tempat dimana tidak pernah merasa bosan bersama mereka. Tempat saling mengingatkan. Tempat saling menguatkan. Keluarga kedua saya.

Terima kasih Allah telah menghadirkan mereka pada saya yang masih banyakkk kurangnya ini. Semoga saya juga bisa menjadi bagian penguat bagi yang lain.

Sekarang, saya ingin mengatakan satu kalimat; kalimat yang sudah sangat asing bagi jiwa yang sudah lama kering ini:
Anna uhibbukum fillah, sisters. Indeed love you all.

Advertisements

Oh Dunia…

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)” [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

 Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal : kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus; kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan; dan penyesalan yang tidak pernah berhenti.

Ratusan hari sudah dilewati tanpa keinginan menulis lagi di blog ini, huehue. Banyaklah faktornya, mulai dari sibuk kerja, sibuk ngurus anak, sibuk ngurus rumah, sibuk ngurus perasaan (ceilahhh), dan kesibukan lainnya yang ternyataaaaa setelah ratusan purnama mencoba menemukan frase yang tepat, akhirnya saya sadar bahwa sungguh segala kesibukan ini hanyalah tentang 1 hal: “Kesibukkan Dunia”.

I (actually) was so busy thinking & catching the “Dunya” — sampai saya lupa untuk apa sebenarnya saya melakukan ini dan itu, untuk apa segala kelelahan ini saya tempuh.

Tentu saja saya masih shalat, masih membiasakan tilawah, masih menjaga beberapa ibadah sunnah, masih mendidik anak sesuai tuntunan islam, masih rutin melingkar, masih suka ngedengerin kajian di youtube di waktu senggang di kantor, masih sedekah… Masih.

And my life still looks good — dan mungkin layak bikin orang iri. Saya punya suami yang baik, anak2 cantik yang sehat dan pintar, pekerjaan dengan pendapatan dan lingkungan yang nyaman, tetangga2 yang baik, semua yang baik.
Namun saya tahu ada yang salah, ada yang salah.

Sampai saat Dhuha tadi, entah gimana tiba-tiba timbul kekhawatiran yang “nggak banget” terkait rezeki Allah. Dan saya maluuu sendiri bisa punya pikiran kayak begitu. Tapi begitulah adanya, kehawatiran itu beneran ada. Saya takut kehilangan dunia.

Dan sampailah saya pada hadist di atas. Duh gustiii, kayaknya memang ini yang terjadi dengan saya. Mungkin saya telah meletakkan dunia lebih tinggi dibandingkan kecintaan saya terhadap akhirat. Saya terlalu sibuk mengisi waktu untuk bisa memenuhi standar kebaikan dunia — hingga ibadah yang (mati-matian) dipertahankan itupun rasanya menjadi hampa dan kosong. Saya merasa tidak pernah merasa cukup. Saya rungsing. Saya banyak mengeluh. Saya selalu merasa butuh “piknik” yang ternyata setelahnya tidak juga menghilangkan kegundahan. Saya tidak suka jika ada ketentuan Allah yang merusak kenyamanan saya. Saya sangat cuek pada perasaan oranglain, saya seringkali egois mencari kepuasan untuk diri saya sendiri (yang tidak kunjung ditemukan). Saya sering sekali mengutuk (dalam hati) pada orang  yang tidak membuat saya bahagia. Saya kehilangan ketulusan. Blablabla. Sungguh saya merasa tidak content.

Itu mungkin salah satu sebab mengapa saya jadi tidak menulis lagi, saya tidak tahu mau sharing apa. Saya merasa hidup saya terlalu “biasa” dan tidak berharga untuk saya bagi. Saya merasa tidak achieve apapun yang bisa saya banggakan. Saya tidak mampu lagi melihat hikmah dari setiap hal yang Allah kasih.

Dan here i am.
Serasa menjadi hamba yang rendah yang merasa sangat jauh dari tuhan-Nya.

Doakan saya bisa kembali ya! :)
Semoga bisa kembali menjadikan sujud dan bermunajat  menjadi hiburan indah di malam-malam yang panjang ~.

Assalamu’alaikum!

Yeiy! Blog ini re-started lagi!
Saya lagi rapi-rapi hidup, haha. Dimulai dari rapi-rapi blog dulu yaaa…

Tahun ini, banyak tantangan baru. Ngurus rumah “baru”, dapet tugas “baru” di kantor, follow banyak akun inpiratif baru di IG (wkwk, penting ini), banyak rencana-rencana baru, -yang pada akhirnya:

Saya ingin membuat tahun ini jauh lebih banyak membawa kebaikan-kebaikan. :)

Alhamdulillah Allah memberikan banyak sekali kejutan di tahun lalu. Kejutan-kejutan yang membuat saya banyak sekali belajar dan bersyukur.

Tahun ini akan “sangat menantang”. Semoga semuanya bisa dijalani dengan baik, membawa kebaikan, dan membawa saya menjadi pribadi yang lebih kuat!

Let’s fight!