#Quote of the day…

September 28, 2016 § Leave a comment

Dimulai dari pembahasan random tentang kemesraan Agus Yudhoyono dengan Anisa Pohan ketika pendaftaran Calon Gubernur DKI kemarin. Saya bilang: “Agak lebay deh…”, dia bilang “Ngga juga…”
Kemudian perbincangan diakhiri dengan statement darinya:

screenshot_2016-09-28-08-00-19

Wkwk…

Weslah, emang paling bener fokus aja ke keluarga kita sendiri.
Masing-masing keluarga punya parameter kenyamanan dan preferensinya masing2.
Let them be, and let us be.
Ga usah terlalu pusing lihat pasangan/keluarga yang lain.
Mereka pantas berbahagia, begitu juga kita :)

Yes, i know i marry a right man. :)

September 26, 2016 § 2 Comments

Saya tahu saya tidak salah menikahi seorang lelaki, adalah ketika:
Sepelik apapun konflik diantara kita, seperti apapun dinamika perasaannya, semarah apapun dia, sesalah apapun saya, seseru apapun perdebatan dan adu-argumen di antara kita;
Saya sadar saya sedang berhadapan dengan seorang lelaki yang baik hati dan perangainya,
dan selalu ada keyakinan semua akan kembali manis pada ujungnya. :)

Saya sudah mengira di penghujung malam itu, ia akan menyerah. Saya tahu dengan pasti. Feeling istri mungkin. Jadi ketika ia akhirnya memberikan pelukan hangat itu dari belakang, saya hanya bisa tersenyummm lebar. Dan momen ‘berbaikan’ itu selalu menjadi saaangat manis.

Momen marah-sebel-ngambek-adu argumen-berbaikan mungkin sama seringnya dengan kesukaan makan bakso kita, hehe. Tetapi momen berulang itu (sejauh ini) telah membentuk bonding, pengertian, dan keterbukaan yang luar biasa.

Pesis seperti yang ia katakan, dinamika dan konflik adalah sunatullah, dan di waktu ke depan, kami pasti akan lagi mengalami segala konflik dan dinamikanya. Tetapi mengalami dinamika ini bersamanya, adalah seperti rekreasi yang menyenangkan. :)
Yes, i know i marry a right man, and i love him sooo much.

Happy (late) 2nd anniversary, husband!
Dari 4 Agustus 2014 (atau resminya 20 September), hingga selamanya.

#Now Playing: Titi DJ, Bahasa Kalbu

Mencintai dengan attitude…

September 23, 2016 § Leave a comment

~repost untuk kesekian kalinya.

2 tahun yang lalu:

A : “Kita sampai kapan ya punya perasaan kayak begini; akankah ada masanya ketika kita jadi biasa aja? […]”

K : “Mungkin. Ada juga masanya kita bosan sholat, tapi kita juga harus tetap sholat. Orang yang mencintai dengan perasaan itu berbeda dengan orang mencintai dengan attitude. Just my 2 cents.”

A : “Mencintai dengan attitude?”

K : “Aku pernah nanya ke kamu kalo ndak salah, sayang. Bisa gak kalo kita lagi marah-marahnya sama orang, tapi kita tetap ber-attitude baik sama dia? Mungkin jadi terkesan pretending, tapi memang bisa. Cinta itu sama kayak iman mungkin ya; Kadang naik, kadang turun; kadang banyak, kadang sedikit; kadang mungkin hilang. Tapi bisa gak, dalam setiap dinamika perasaan tersebut, kita menghadirkan attitude yang baik dalam mencintai suami/atau istri kita. Sama seperti kita tetap sholat, walau kondisi iman kita sedang dalam batas minimal. Sebenarnya bukan cuma perasaan yang men-trigger tindakan, tetapi juga tindakan yang men-trigger perasaan. Artinya, dengan beratitude baik, kita bisa juga mem-boost kondisi cinta kita ke atas lagi.
Adalah keniscayaan pada suatu waktu kita akan dihadapkan dalam sebuah konflik. Dan dalam pergolakan yang memang secara sunatullah dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan, hadapi saja dengan tetap menghadirkan attitude yang baik.

I’m frozen in time …
I’ve been so wrong (actually) and only my stone-head blocked my mind.

Maaf ya sayanggg… with all my heart. <3

. . .

June 9, 2016 § Leave a comment

Kadang aku gak mau kamu melesat terlalu jauh. Sibuk di setiap waktunya. Kadang, aku hanya ingin kamu seperti ibu (ulujami) atau eyang. Mendidik anak sepenuhnya. Berkhidmad untuk keluarga dengan cara yang dulu diajarkan rasul pada istri2nya. Aku lebih merasa tenang seperti itu.

AADC2…

May 25, 2016 § 1 Comment

Membahas hal yang kekinian (ahey), semalam, saya nge-date nonton AADC2 sama suami setelah sekian lama *tutup muka*
Tiba-tiba aja diajak nonton dan dia sudah beli tiketnya, baiklah mau bagaimana lagi, hihi.

Terkait filmnya, saya ngga pengen banyak komentar sih. Biasa aja menurut saya. Hanya latar tempat yang digali dengan indah. Dan alur ceritanya, terutama kisah percintaan Cinta-Rangga, seperti banyak komentar yang berseliweran dimana-mana: tidak dewasa. Indeed, ngga dewasa banget, lebih gentle suami saya #eh.

Diantara layar film, baju kuyup karena kehujanan, dan tangan kedinginan yang erat digenggam suami: Pikiran saya mengembara pada banyak scene acak. Banyak. Sembari sejenak menengok laki-laki dengan tangan hangatnya.

Sungguh, menjadi dewasa dalam bercinta adalah salah satu seni tersendiri. Dan itu tidak mudah, saya tahu.
Saya mungkin salah satu yang terselamatkan karena sifat saya yang “plain”; tapi mungkin tidak bagi yang lain.

Cinta itu tegak. Cinta itu tidak menye-menye. Cinta itu tegas menggenggam dan tegas melepaskan.
Dewasalah :)

*ini tulisan apa, wkwk*

Pagi

May 23, 2016 § 3 Comments

screenshot_2016-05-23-15-31-09

screenshot_2016-05-23-15-31-37

Bahwa menikah,
Adalah seni memelihara cinta.

Dan mencintainya,
Adalah tentang mengingat hal-hal manis dan kembali merasakan degupnya. :)

One day

March 21, 2016 § Leave a comment

image

Menemani gadis kecil ini tertidur di siang hari pada weekdays; is precious.
And i’m whispering a prayer: akan ada saatnya, si bunda akan juga  ada di pagi, siang, dan sore harinya; dan tentu saja saat malam ketika si gadis kecil menutup mata diantara dongeng-dongeng sebelum tidur.

*kecup kening*